banner 728x250.
News  

AJI Gelar Workshop Keamanan Digital

IMG-20230315-WA0035
IMG-20230315-WA0034
banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 946 kali

LANGSA – Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) Kota Langsa mengelar Workshop Keamanan digital (Workshop Digital Security) kepada para Anggota AJI yang bertugas di 3 (tiga) kabupaten/kota yakni Langsa, Aceh Timur dan Tamiang, bertempat di sweet room Pengeran Kupi, Simpang Commodore, Birem Puntong – Langsa, Rabu (15/3/2023).

Ketua AJI Langsa Mustafa Rani dalam sambutannya sekaligus membuka acara mengatakan, kegiatan pelatihan tersebut difasilitasi oleh AJI Indonesia dengan dukungan Google News Initiative.

Lanjutnya, kegiatan pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari Training of Trainer (ToT) Digital Safety yang digelar AJI Indo pertengahan Februari lalu di Jakarta, yang diikuti oleh 20 perwakilan AJI dari berbagai kota lainnya.

“Pelatihan ini sebagai tindak lanjut program AJI Indo yang di ikuti oleh Said Maulana beberapa pada bulan Februari lalu di Jakarta,” kata Musthafa Rani.

Dirinya berharap, melalui pelatihan yang diselenggarakan, para jurnalis dapat memahami jenis-jenis serangan digital, cara mencegahnya dan tindakan mitigasi bila serangan tersebut kadung terjadi.

Sementara itu, Said Maulana selaku pemateri dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa para jurnalis wajib memahami tentang keamanan digital dalam penggunaan akun pribadi maupun media sosial.

Said menjelaskan, bahwa kini era digital semakin merambah ke berbagai kalangan dan tidak menutup kemungkinan peluang pembobolan data oleh para peretas (Hacker) sangat rentan terjadi di kalangan jurnalis yang dituntut memberitakan fakta kepada publik.

Sedangkan Jafaruddin, salah seorang jurnalis asal Lhokseumawe yang juga menjadi pemateri dalam kegiatan itu memaparkan, bahwa konsep dan bentuk serangan digital pada jurnalis, perlu dilakukan berbagai langkah pada aplikasi perangkat lunak.

“Menerapkan keamanan saja belum tentu aman, misalnya soal penggunaan password dan mengelola identitas diri, maka kita sarankan para peserta untuk menggunakan password berbeda untuk setiap akun media sosial dan perangkat digital mereka,” tuturnya.

Jafaruddin mengingatkan, bahwa memasuki tahun politik, para jurnalis sangat rentan terkena serangan digital, sehingga perlu dilakukan pengamanan yang baik agar tidak terjadi kebocoran data.

“Jadi, agar lebih aman, pola-pola itu mesti dikombinasi antara kalimat, angka, dan simbol, kemudian melakukan verifikasi dua langkah agar penggunaan akun jauh lebih aman,” tutupnya. (Syd).