banner 728x250.

Tekanan Fiskal Dorong Berau Perkuat Pariwisata hingga Pertanian

banner 728x250. banner 728x250.

BERAU, Global-satu.com – Pemkab Berau menyesuaikan strategi pembangunan di tengah tekanan fiskal akibat penyesuaian Transfer Keuangan Daerah (TKD). Pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi sektor yang terus diperkuat.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyampaikan hal itu dalam Rapat Paripurna DPRD memperingati Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb, Senin (14/9/2026).

Keterbatasan anggaran turut berdampak pada Alokasi Dana Kampung (ADK). Nilainya turun dari Rp320 miliar pada 2025 menjadi Rp145 miliar pada 2026.

“APBD Kabupaten Berau 2026 sendiri ditetapkan sebesar Rp3,42 triliun,” kata Sri.

Meski ruang fiskal menyempit, pembangunan tetap diarahkan pada pelayanan dasar, infrastruktur, dan penguatan ekonomi warga. Kualitas pelayanan publik juga menjadi perhatian.

“Pembangunan kita arahkan pada sektor-sektor yang mampu memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sri menyebut transformasi ekonomi diperlukan untuk menghadapi kondisi tersebut. Pengembangan potensi lokal diharapkan memperkuat kegiatan usaha dan sumber pendapatan masyarakat.

Di bidang investasi, realisasi pada 2025 mencapai Rp8,76 triliun atau 194,71 persen dari target Rp4,5 triliun. Pada 2026, target ditetapkan Rp8 triliun dengan realisasi sekitar Rp3,6 triliun hingga triwulan II.

Komoditas kakao turut menjadi bagian dari penguatan ekonomi daerah. Sepanjang 2023–2025, Berau mengekspor 23 ton biji kakao ke sejumlah negara.

Ekspor kembali dilakukan pada 2026 dengan total 11,5 ton kakao ke Prancis dan Swiss.

Pembangunan konektivitas juga dilanjutkan melalui Jembatan Bailey Hulu Kelay, Dermaga Teluk Sulaiman, Jembatan Sei Sumbang, dan Jembatan Sei Bataan. Proyek tersebut diharapkan memperlancar mobilitas serta akses ekonomi dan wisata.

Pemkab tetap mempertahankan bantuan angkutan pelajar dan mahasiswa, pendidikan gratis TK hingga SMP, serta pembebasan BPHTB bagi warga tidak mampu.

Program lainnya mencakup pengembangan Trans Berau, fasilitas olahraga, pusat ekonomi desa, dan rencana pembangunan Berau Creative Hub.

Dalam kesempatan itu, Sri turut mengingatkan ancaman karhutla selama kemarau panjang. Jumlah titik panas atau hotspot sempat mencapai 779 pada 29 Agustus 2026.

Berdasarkan data BMKG Kaltim per 9 September, jumlahnya turun menjadi 50 titik. Meski demikian, ia meminta pemerintah, masyarakat, dan unsur terkait tetap waspada serta terlibat dalam penanganan.

Sri menegaskan, pembangunan tetap mengacu pada visi Berau Maju, Unggul, Berkelanjutan, Makmur, dan Sejahtera.

“Pembangunan tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kebersamaan seluruh unsur agar Berau terus tumbuh dan mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan,” pungkasnya.

(Indra/Advertorial)

Wartawan: Global Satu, Editor: Global Satu