BERAU, Global-satu.com – Hamparan kebun kakao yang mulai menghijau di Kampung Gurimbang menjadi simbol harapan baru bagi para petani. Di balik keberhasilan itu, terdapat sosok Iriansyah (62), warga RT 4 Kampung Gurimbang, yang membuktikan bahwa usia bukan menjadi penghalang untuk terus belajar dan beradaptasi dengan komoditas pertanian baru demi meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan sebagai petani. Berbagai komoditas hortikultura seperti jagung dan aneka sayuran pernah ia budidayakan. Namun, menurutnya, tanaman tersebut merupakan komoditas jangka pendek yang hasilnya sangat dipengaruhi kondisi pasar dan musim.
“Berbagai macam tanaman sudah dicoba, mulai dari jagung, sayur-sayuran, dan lainnya yang memang bukan tanaman jangka panjang. Lalu ada sosialisasi dari Berau Coal untuk menanam kakao. Saya jalankan karena di Kabupaten Berau memang sedang dikembangkan, dan perusahaan juga mendukung program ini,” ujar Iriansyah.

Harapan baru itu hadir melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal pada pilar ekonomi. Program tersebut mendorong pengembangan budidaya kakao sebagai sumber ekonomi masyarakat yang berkelanjutan, sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Berau menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Pada awal 2025, Iriansyah mulai mengembangkan kebun kakao di lahan seluas 1,2 hektare. Melalui program tersebut, ia menerima 1.000 bibit kakao bersertifikat beserta berbagai sarana produksi pertanian, seperti pupuk, kompos, dolomit, pestisida, herbisida, hingga tanaman penaung.
Tanaman penaung yang diterimanya terdiri atas 60 bibit petai, lima bibit kelapa, 10 bibit alpukat, serta bibit durian. Selain menjaga pertumbuhan kakao tetap optimal, tanaman tersebut juga diharapkan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga sembari menunggu kakao memasuki masa produksi.
Tak hanya itu, PT Berau Coal juga memberikan benih hortikultura berupa cabai, kangkung, tomat, dan jagung agar petani tetap memperoleh penghasilan selama masa tunggu panen kakao.
Bagi Iriansyah, kakao menawarkan prospek yang lebih menjanjikan dibandingkan tanaman yang sebelumnya ia budidayakan. Salah satu alasan utamanya adalah kepastian pasar.
“Kalau kakao ini saya tidak bingung lagi nanti hasilnya mau dijual ke mana. Pasarnya sudah jelas, jadi lebih yakin untuk menanam,” katanya.
Melalui program yang difasilitasi PT Berau Coal, hasil panen kakao petani nantinya juga akan dibeli sehingga memberikan kepastian pemasaran bagi para petani.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Berau Coal yang sudah memberikan dukungan ini untuk kami bertani dan berkebun. Harapan saya semoga Berau Coal dapat terus mendampingi proses kami,” ucapnya.
Keberhasilan kebun kakao milik Iriansyah juga tidak terlepas dari pendampingan intensif yang diberikan tim PT Berau Coal. Meski baru sekali mengikuti Sekolah Lapang Kakao, perkembangan tanamannya dinilai sangat baik karena ia konsisten menerapkan setiap arahan yang diberikan.
“Saya hanya mengikuti arahan dan petunjuk dari Berau Coal. Sebagai pemula, saya memang harus benar-benar memperhatikan setiap petunjuk supaya hasilnya nanti bagus dan tanaman bisa tumbuh sesuai harapan. Mulai dari cara menanam, dikasih bibit kakao, sampai tanaman penaung semuanya diberikan dan diarahkan oleh Berau Coal,” jelasnya.
Kisah Iriansyah menjadi gambaran bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat, melalui pendampingan serta penyediaan sarana produksi, mampu membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan. Dengan semangat para petani seperti Iriansyah, pengembangan kakao di Kabupaten Berau diharapkan terus tumbuh menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di masa mendatang.
Indra/Rdk
Wartawan: Global Satu, Editor: Global Satu
.
.
.




