BERAU, GLOBAL-SATU – Kondisi udara di Kabupaten Berau kembali menjadi perhatian. Fenomena udara kabur atau haze yang disertai kabut asap masih terpantau di sejumlah wilayah, seiring tingginya suhu dan minimnya curah hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat kondisi tersebut turut berdampak terhadap jarak pandang di kawasan Bandara Kalimarau. Visibility berada pada kisaran 2 hingga 4,5 kilometer.
Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi, didampingi Prakirawan Cuaca Ivan Rizki, mengatakan partikel kering halus di udara terpantau cukup konsisten sejak pagi hingga malam hari.
Kondisi cuaca panas juga menjadi perhatian. Suhu udara di Kabupaten Berau sempat mencapai 37,8 derajat Celsius, yang menempatkan daerah tersebut sebagai salah satu wilayah dengan suhu tertinggi di Indonesia.
Ivan menegaskan, keberadaan asap tidak terlepas dari aktivitas pembakaran yang dilakukan manusia.
“Tidak akan ada asap jika tidak ada yang membakar,” tegas Ivan saat memberikan keterangan kepada Dinas Komunikasi dan Informatika Berau, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, kondisi panas dan rendahnya intensitas hujan saat ini dipengaruhi dinamika atmosfer serta masih adanya sisa pengaruh fenomena El Niño.
Meski demikian, BMKG menyebut kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai kemarau panjang ataupun kekeringan ekstrem. Secara klimatologis, Kabupaten Berau memiliki karakteristik iklim yang cenderung basah.
Pemerintah sebelumnya juga telah melakukan upaya rekayasa cuaca melalui penyemaian awan atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Upaya tersebut sempat membantu menekan jumlah titik panas (hotspot).
Namun, efektivitas TMC saat ini menghadapi kendala lantaran pertumbuhan awan potensial yang dapat disemai relatif minim.
“Rekayasa cuaca ibarat pupuk, hanya bisa berfungsi jika tersedia bibit awan,” jelas Ivan.

BMKG memperkirakan kondisi musim kemarau di Kabupaten Berau masih akan berlangsung hingga akhir September 2026. Hujan dengan distribusi yang lebih merata diperkirakan mulai terjadi secara bertahap setelah periode tersebut.
Di tengah kondisi udara yang kurang baik, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Aktivitas membakar sampah secara terbuka juga perlu dihentikan untuk mencegah kualitas udara semakin memburuk.
Sebagai gantinya, masyarakat diimbau menggunakan metode pengelolaan sampah yang lebih aman dan tidak menimbulkan asap.
Indra/Rdk
Wartawan: Indra, Editor: Global Satu
.
.
.




