BERAU, Global-satu.com – Pembangunan Kecamatan Gunung Tabur diarahkan berjalan seiring dengan pelestarian warisan kesultanan. Pemkab Berau menempatkan sejarah dan budaya sebagai bagian dari pengembangan wilayah, bersama penguatan UMKM, pelayanan dasar, serta infrastruktur.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, pembangunan setiap kecamatan perlu menyesuaikan karakter dan potensi setempat. Gunung Tabur memiliki kekuatan pada peninggalan sejarah, tradisi, serta peluang pengembangan ekonomi kreatif.
“Pemkab Berau komitmen melakukan pembangunan Gunung Tabur agar lebih maju tahun ini, dengan pembangunan mencakup sektor pelestarian sejarah, ekonomi kreatif dan UMKM, pelayanan dasar hingga infrastruktur dasar,” ujarnya, Jumat.
Gunung Tabur memiliki keterkaitan dengan perjalanan Kesultanan Berau yang terpecah menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung akibat perselisihan suksesi. Peninggalannya masih dapat dijumpai di Istana Gunung Tabur yang kini menjadi Museum Batiwakkal.
Museum tersebut menyimpan meriam, singgasana, dan berbagai benda bersejarah. Keberadaannya menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah dan budaya di Berau.
Warisan itu juga tercermin dalam tradisi yang masih dijaga masyarakat, termasuk Baturunan Parau atau gotong royong menurunkan perahu ke sungai, serta ritual Manyandru.
Untuk mendukung ekonomi warga, Pemkab mengembangkan Pasar Barambang sebagai tempat promosi UMKM sekaligus ruang kuliner dan budaya. Pasar di tepi sungai dekat museum tersebut mulai diaktifkan pada awal 2026 setiap Sabtu dan Minggu malam.
Di bidang infrastruktur, sejumlah pekerjaan fisik telah dirancang untuk mendukung kebutuhan kawasan.
“Tahun ini pembangunan di Gunung Tabur terus berlanjut, sejumlah kegiatan fisik yang telah dirancang antara lain pembangunan dan rehabilitasi beberapa ruas jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, serta lanjutan pembangunan TPS 3R,” kata Sri.
Pemkab berharap pengembangan fasilitas dan kegiatan ekonomi dapat berjalan bersama upaya merawat peninggalan kesultanan. Dengan demikian, kemajuan Gunung Tabur tetap mempertahankan karakter sejarah dan budaya yang melekat pada wilayah tersebut.
(Indra/Advertorial)
Wartawan: Global Satu, Editor: Global Satu
.
.
.




