banner 728x250.

Ditutup Resmi, Festival Rindu Dumaring 2026 Jadi Ruang Generasi Muda Menimba Ilmu pada Tetua Kampung

banner 728x250. banner 728x250.

BERAU, Global-satu.com — Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 resmi ditutup pada Sabtu (5/9/2026), setelah berlangsung hampir satu bulan sejak kick off pada 8 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga diarahkan untuk mendorong pariwisata dan ekonomi masyarakat Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau.

Penutupan Festival Rindu Dumaring dihadiri masyarakat Dumaring, tokoh adat, tokoh masyarakat, peserta kegiatan serta tamu undangan. Bupati Berau diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Berau, M. Hendratno, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut.

Hendratno mengatakan, penyelenggaraan festival berskala besar dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung hampir satu bulan bukan perkara mudah. Terlebih, pelaksanaan dilakukan dengan berbagai keterbatasan yang ada.

FOTO : Salah Satu Peserta yang Mengikuti Program Belajar Dari Maestro Menyumpit.

“Namun hari ini mata kita terbuka melihat fakta bahwa keterbatasan ini mampu dilewati, dengan semangat gotong royong dan kemitraan yang solid,” ujar Hendratno.

Menurutnya, Kampung Dumaring telah menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Kabupaten Berau. Gagasan yang lahir dari tingkat kampung, kata dia, mampu berkembang menjadi sebuah gelaran kebudayaan yang gaungnya lebih luas.

Melalui Festival Rindu Dumaring, masyarakat tidak hanya mengangkat dan memperkenalkan kembali seni budaya serta adat istiadat, tetapi juga memberikan ruang bagi hasil karya kreatif masyarakat untuk tampil di hadapan publik.

“Kita tidak hanya berhasil mengangkat, merawat, dan mengenalkan kembali keunikan seni budaya, adat istiadat, serta hasil karya kreatif masyarakat Dumaring ke panggung yang lebih luas,” katanya.

Festival tersebut, lanjut Hendratno, sekaligus menjadi ruang promosi yang efektif bagi sektor pariwisata, khususnya di wilayah pesisir Berau.

FOTO : Peserta yang Mengikuti Program Belajar Dari Maestro, Silat Bakuntau

Hendratno menegaskan, Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong arah kebijakan pariwisata yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan atau eco-tourism.

Pembangunan pariwisata, menurutnya, tidak boleh hanya berorientasi pada eksploitasi potensi alam. Sebaliknya, pariwisata harus mampu berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap adat masyarakat.

“Kita tidak ingin pariwisata yang eksploitatif. Kita justru sangat menginginkan pariwisata yang menghargai keluhuran adat, menjaga keaslian alam, namun di saat yang sama mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif secara riil,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Rindu Dumaring 2026, Nana Sumana, mengatakan festival tahun ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan satu atau dua hari. Sejumlah kegiatan telah dilaksanakan sejak 8 Agustus hingga puncak acara pada 5 September.

FOTO : Salah Satu Peserta yang Mengikuti Program Belajar Dari Maestro Membuta Anyaman.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kick off pada 8 Agustus 2026. Kemudian pada 9–10 Agustus dilaksanakan pelatihan public speaking dan hospitality yang diikuti 46 peserta dari unsur pelaku pariwisata, UMKM dan masyarakat.

Kegiatan berlanjut melalui program Belajar Bersama Maestro pada 21–23 dan 28–30 Agustus. Selama enam hari, sebanyak 72 anak dan generasi muda belajar langsung dari para tetua adat, termasuk mengenal bahan dari hutan dan mempraktikkan berbagai keterampilan budaya.

Pada 3–4 September, panitia menggelar perlombaan umum khusus masyarakat Dumaring yang diikuti 102 peserta. Seluruh rangkaian tersebut kemudian mencapai puncaknya pada Sabtu, 5 September 2026.

Nana menjelaskan, Festival Rindu Dumaring tahun ini mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan”.

Menurutnya, tema tersebut menggambarkan tujuan festival yang tidak sekadar menghadirkan pertunjukan atau perlombaan, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat, memperkenalkan budaya kepada generasi muda dan memberikan panggung kepada para maestro serta tetua kampung.

“Kita ingin anak-anak Dumaring mengenal budayanya bukan hanya dari buku atau cerita, tetapi juga dari orang-orang yang masih menguasai dan menjalankannya. Dan yang tidak kalah penting, kita ingin proses ini terus berjalan meskipun festival telah selesai,” tandasnya.

 

Indra/Rdk/Adv

Wartawan: Global Satu, Editor: Global Satu