banner 728x250.

Dari Tak Punya Cita-cita hingga Berani Bermimpi, Transformasi Siswa Sekolah Rakyat

banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 732 kali

SAMARINDA, Global-Satu.com – Banyak anak yang sebelumnya tidak memiliki cita-cita kini mulai berani bermimpi menjadi dokter, guru, hingga pengusaha setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Perubahan pola pikir tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program yang dirancang pemerintah untuk membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera keluar dari lingkaran kemiskinan melalui pendidikan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah, memaparkan selama satu tahun pembinaan, perubahan paling nyata terlihat dari cara pandang siswa terhadap masa depan mereka.

“Dulu banyak anak yang kalau ditanya cita-citanya masih bingung, bahkan ada yang tidak punya sama sekali. Sekarang mereka mulai berani bermimpi dan punya tujuan yang ingin dicapai,”Β paparnya saat kegiatan Open House di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Provinsi Kaltim di Jalan Ery Suparjan Sabtu (17/6/2026).

Menurutnya, keterbatasan ekonomi dan lingkungan membuat banyak peserta didik minim referensi mengenai masa depan. Karena itu, sekolah tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga membangun karakter dan motivasi agar siswa mampu mengenali potensi dirinya.

Selain belajar di kelas, siswa juga dibiasakan menerapkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Saat masa libur sekolah, mereka dibekali jurnal kegiatan agar kebiasaan baik yang telah dibangun di sekolah tetap dilaksanakan di rumah.

“Kami ingin perubahan itu tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dibawa ke lingkungan keluarga. Anak-anak diharapkan bisa menjadi contoh yang baik di rumah masing-masing,” kata Rabiatul.

Dalam proses akademik, Rabiatul menjelaskan bahwa pihak sekolah menerapkan evaluasi berdasarkan kemampuan dan kesiapan belajar setiap siswa. Mereka yang dinilai belum mencapai kompetensi tidak dipaksakan naik kelas, melainkan mendapatkan pendampingan hingga benar-benar siap.

“Yang kami kejar bukan sekadar kelulusan atau kenaikan kelas, tetapi bagaimana anak-anak benar-benar memahami pelajaran dan berkembang sesuai kemampuannya,” jelasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, menilai Sekolah Rakyat merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Armin mengujarkan jika anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan agar memiliki peluang memperbaiki taraf hidup di masa depan.

“Program ini memang dirancang untuk memutus kemiskinan melalui pendidikan. Harapannya, anak-anak yang hari ini hidup dalam keterbatasan bisa tumbuh menjadi generasi yang mampu mengubah nasib keluarganya,” ujar Armin.

Ia menambahkan, meskipun kurikulum Sekolah Rakyat sama dengan sekolah formal lainnya, tantangan pembelajaran lebih kompleks karena guru harus membangun kesiapan belajar sekaligus kepercayaan diri peserta didik.

“Guru di Sekolah Rakyat bukan hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga mendampingi anak-anak agar percaya pada kemampuan dirinya. Itu yang menjadi tantangan sekaligus nilai lebih dari program ini,” tambahnya.

Armin juga memastikan lulusan Sekolah Rakyat memiliki hak yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi karena ijazah yang diterbitkan diakui sebagai ijazah sekolah formal.

“Kami ingin anak-anak ini tidak berhenti sampai di sini. Mereka harus terus melanjutkan pendidikan dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tukasnya.

 

Penulis : HELA