Dalam Bidang Pemberdayaan Masyarakat, BNN mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya P4GN dengan membentuk 23.031 penggiat P4GN yang berasal dari lingkungan Instansi Pemerintah, Instansi Swasta, Masyarakat, dan Pendidikan.
Dukungan masyarakat terhadap Bidang Pemberdayaan Masyarakat dinilai dengan indeks kemandirian penggiat dalam partisipasi P4GN dengan hasil 3,18 yang berarti mandiri.
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat juga melakukan tes urine sebagai upaya deteksi dini potensi penyalahgunaan narkoba kepada 160.005 orang dan 1.042 orang diantaranya terdeteksi positif.
Intervensi Program Pemberdayaan Masyarakat berwujud Grand Design Alternative Development (GDAD) juga dilakukan BNN terhadap mantan pecandu dan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan narkoba melalui kegiatan mengganti lahan bekas tanaman ganja menjadi tanaman komoditas alternatif bernilai ekonomi tinggi serta pelatihan-pelatihan kewirausahaan dan peningkatan lifeskill.
Sinergi BNN RI dengan Kementan dan Dinas Pertanian pada program GDAD di wilayah Provinsi Aceh dengan penanaman jagung pada lahan seluas 7.090 Ha menghasilkan panen 49.630 ton jagung.
Pemetaan BNN RI terdapat 8.691 kawasan di Indonesia yang rawan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dengan kategori bahaya dan waspada.
Melalui Intervensi Pemberdayaan Masyarakat secara komprehensif dan berkesinambungan berhasil menurunkan kawasan rawan narkoba pada kategori bahaya yang semula terdapat 1.884 kawasan menjadi 1.852 kawasan dan kawasan dengan kategori waspada dari 6.859 kawasan menjadi 6.839 kawasan.
Dalam Bidang Rehabilitasi, Program Pemulihan Pecandu dan Korban Penyalahgunaan Narkoba dilakukan di UPT Rehabilitasi BNN, Klinik BNNP dan BNNK, Unit Intervensi Berbasis masyarakat (IBM), Lembaga Rehabilitasi milik Pemerintah, dan Lembaga Rehabilitasi Swasta/Masyarakat.
Pada tahun ini tercatat sebanyak 11.290 pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba yang telah mengakses layanan rehabilitasi.
Fasilitas layanan rehabilitasi milik BNN adalah satu-satunya di indonesia yang memberikan layanan komprehensif, mulai dari layanan rehabilitasi dengan pendekatan Medis, Sosial, dan Pascarehabilitasi dalam Satu Atap.
.
.
.




