banner 728x250.

Prosesi Baturunan Parau di Museum Kesultanan Gunung Tabur, Menjaga Warisan Budaya dalam Peringatan Hari Jadi Berau

banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 1.153 kali

TANJUNG REDEB, Global-Satu.Com – Prosesi Baturunan Parau, yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-71 dan Kota Tanjung Redeb ke-214, sukses digelar pada Senin (16/9/2024) di Museum Kesultanan Gunung Tabur.

Acara tahunan tersebut diorganisir oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bekerja sama dengan Kesultanan Gunung Tabur, sebagai upaya melestarikan warisan budaya yang telah turun-temurun.

Baturunan Parau adalah ritual adat yang melibatkan penurunan perahu naga dari museum ke Sungai Segah. Perahu yang beratnya lebih dari 300 kg itu diangkat bersama-sama oleh masyarakat, dipimpin oleh satu komando, sebelum akhirnya diturunkan ke sungai. Perahu besar yang dihiasi ukiran kepala naga ini mampu menampung hingga 30 laki-laki dewasa. Ikon Perahu Naga Sekuin ini menjadi simbol penting bagi Keraton Gunung Tabur.

Ritual penurunan perahu tak lepas dari upacara adat yang dipimpin oleh tetua suku Banua. Mereka melakukan sanyarandu, sebuah prosesi pemberian sesaji dan doa, agar perahu serta para pedayungnya diberkati dengan kekuatan dan keselamatan. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya perlombaan mendayung perahu panjang, salah satu acara yang paling dinantikan dalam perayaan Hari Jadi Berau.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Muhammad Said, mengapresiasi pelaksanaan tradisi Baturunan Parau ini. Said menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara tersebut mulai dari Kerabat Kesultanan Gunung Tabur, panitia, hingga masyarakat yang terlibat.

Baturunan Parau tak hanya sekadar tradisi menurunkan perahu, melainkan simbol solidaritas masyarakat suku Banua yang menjunjung tinggi semangat gotong royong. Tradisi tersebut mencerminkan bagaimana masyarakat selalu siap saling membantu tanpa diminta, yang menjadi nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.

“Melalui tradisi ini, kita mempererat ikatan sosial dan menjaga keharmonisan antarwarga,” ujar Sekda Muhammad Said.

Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan tradisi Baturunan Parau sebagai warisan nenek moyang, sekaligus menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Berau. Sekda juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus berkontribusi dalam menjaga budaya dan persatuan.

“Dengan bersama-sama melestarikan budaya, kita juga ikut serta dalam membangun Kabupaten Berau yang maju dan sejahtera,” tambahnya.

Prosesi Baturunan Parau menjadi salah satu acara puncak dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Berau, sekaligus pengingat pentingnya menjaga dan mewariskan tradisi budaya bagi generasi mendatang.

Nada/Rdk/Adv