banner 728x250.

Kelay Jadi Titik Rawan, Kecelakaan di Jalur Berau–Samarinda Meningkat

banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 1.080 kali

BERAU,Global-satu.com – Kasus kecelakaan lalu lintas di jalur poros Berau–Samarinda kembali meningkat, dengan Kecamatan Kelay menjadi lokasi yang paling rentan. Ruas jalan provinsi yang menghubungkan dua kabupaten ini tidak hanya mengalami kerusakan berat, tetapi juga dipadati kendaraan angkutan perusahaan, sehingga memperbesar potensi terjadinya kecelakaan, baik tunggal maupun beruntun.

Kerusakan berupa lubang, permukaan bergelombang, serta kondisi jalan yang licin saat hujan menjadi faktor penyebab utama insiden. Catatan kepolisian sebelumnya pun menunjukkan bahwa ruas Berau–Kutai Timur—terutama di wilayah Kelay—merupakan salah satu kawasan dengan tingkat kecelakaan tertinggi di pesisir Kaltim. Hampir setiap tahun jumlah insiden di jalur tersebut meningkat, menegaskan pentingnya percepatan perbaikan infrastruktur di jalur vital itu.

Sorotan publik kembali mengarah pada lambannya penanganan pemerintah setelah sejumlah kecelakaan kembali terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Masyarakat menilai, selama kerusakan jalan dibiarkan dan pembatasan tonase kendaraan berat tidak ditegakkan, keselamatan pengendara akan terus terancam.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, turut angkat suara. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus menagih komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk melakukan perbaikan jalan provinsi yang melintasi Kelay. Dorongan ini semakin kuat setelah kunjungan kerja Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, yang sebelumnya menjanjikan tindak lanjut terhadap perbaikan infrastruktur di wilayah Berau.

“Kami akan terus mengawal program provinsi di Kabupaten Berau, terutama perbaikan jalan provinsi dari Kelay menuju Samarinda yang kini sangat mendesak,” tegas Dedy.

Menurutnya, perbaikan tidak boleh hanya menjadi wacana. Selain menghambat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi, kondisi jalan yang rusak sudah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwa. Ia menilai percepatan penanganan harus menjadi prioritas provinsi mengingat kerusakan di jalur tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi menyeluruh.

Dedy berharap, setelah adanya perhatian dari pemerintah provinsi, perbaikan bisa dilakukan secara komprehensif—mulai dari pembenahan konstruksi, penguatan badan jalan agar mampu menahan kendaraan bertonase besar, hingga penegakan aturan tonase untuk mencegah kerusakan berulang.

“Ini bukan hanya soal kenyamanan berkendara. Ini menyangkut nyawa pengguna jalan. Kita ingin masyarakat merasa aman ketika melintasi Kelay,” tutup Dedy.

Indra/adv