BERAU, Global-satu.com – Sebanyak 60 siswa Sekolah Filial SD 001 Cabang Biatan Ilir terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di bawah kolong rumah warga dengan kondisi yang jauh dari kata layak.
Kisah ini diungkapkan oleh guru sukarelawan, Ibu Asni, yang mengajar selama kurang lebih satu tahun di sekolah tersebut. Ia menceritakan kondisi ruang belajar yang berbau pesing karena berada di bawah rumah warga, serta keterbatasan sarana dan prasarana yang memprihatinkan.
“Hari terakhir saya mau pamit sama anak-anak, saya tunggu mereka di pintu kelas. Mereka datang jalan kaki tiga kilometer dari rumah, pakai sandal jepit, kaki berlumpur. Nggak sanggup saya pamit,” ungkap Asni, Rabu (4/3/2026).
Sekolah tersebut menampung siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, namun hanya memiliki lima guru untuk seluruh tingkatan. Bahkan, tidak terdapat guru bidang studi tetap yang secara khusus ditempatkan di lokasi tersebut.
Dirinya juga menyebut bahwa warga setempat sempat membangun ruang kelas sederhana, namun karena dinilai tidak layak, kegiatan belajar akhirnya dipindahkan ke kolong rumah warga. Ironisnya, di lokasi tersebut terdapat plakat pembangunan dari dinas terkait, namun proses pembangunan disebut sempat terhenti.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyatakan keprihatinan mendalam dan menilai situasi itu tidak bisa dibiarkan berlarut.
“Saya sangat prihatin. Ini menyangkut hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak seharusnya mereka belajar di kolong rumah dengan kondisi seperti itu,” tegasnya.
Elita menyebut pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk meminta penjelasan, terutama mengenai pembangunan sekolah yang disebut telah memiliki plakat namun tidak selesai.
“Kalau memang sudah direncanakan pembangunannya, kenapa sampai terhenti? Ini harus jelas. Jangan sampai ada pembangunan mangkrak sementara anak-anak kita belajar dalam kondisi tidak manusiawi,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah segera menyiapkan solusi darurat berupa ruang belajar yang layak sambil menunggu pembangunan permanen direalisasikan.
Indra/Rdk/Adv
.
.
.




