banner 728x250.
News  

Buka Bersama Merajut Kebersamaan Bersama DR. (HC). Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum di GKI Sidoarjo

IMG-20230409-WA0009
IMG-20230409-WA0008
IMG-20230409-WA0007
banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 797 kali

SIDOARJO – Suatu kebersamaan akan terasa indah apabila dilandasi kebinnekaan tanpa memandang suatu golongan tertentu. Demikian juga dengan kolaborasi antara GKI (Gereja Kristen Indonesia) Sidoarjo dengan Gusdurian Sidoarjo yang mengadakan kegiatan buka bersama di gereja yang dilaksanakan pada hari Jumat (07/04/2023) dengan dihadiri DR. (HC). Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum, Gusdurian, Jemaat GKI serta dari gereja lain dan masyarakat umum.

Pendeta Leonard A. Immanuel mengatakan pertama-tama pihaknya ditawari oleh rekan-rekan Gusdurian untuk menjadi tuan rumah buka bersama Ibu Sinta Nuriyah Wahid. “Kami  senang karena di tawari dan diberi kehormatan untuk menjadi tuan rumah. Suatu kehormatan bagi kami bisa mengadakan buka bersama dengan DR. (HC). Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum, Gusdurian dan masyarakat,” kata Pdt Leonard.

“Kebetulan acara buka bersama di GKI bersamaan dengan Jumat Agung bagi umat Kristen berpuasa, dan momentum intuk membangun hubungan lintas agama yang lebih berkualitas,” tambahnya.

Pdt Leo menjelaskan kebetulan adalah hari Jumat Agung kalau misalnya ada keberatan dengan buka bersama ini lebih pada kenapa kalau pas hari Jumat Agung yang pertama kami di GKI Sidoarjo merayakan Jumat Agung selalu pagi hari, belum pernah merayakan kebaktian Jumat Agung itu sore hari. “Jadi sore hari kosong, tidak ada acara apa-apa gereja kosong mengapa tidak dipakai untuk kegiatan buka bersama ini yang pertama. Yang kedua buka bersama ini kan sebuah momentum yang pas karena orang-orang Kristen sebenarnya juga sedang dalam masa aksi pantang dan puasa juga. Ini masih masuk dalam masa Raya Paskah sejak Rabu Abu hingga besok orang Kristen beraksi pantang dan puasa dan teman-teman Muslim juga sedang berpuasa menyatukan dua aksi berpuasa yang sama-sama, walaupun tentu penghayatannya beda dalam satu tempat dan menjadi sebuah momen untuk membangun hubungan lintas agama yang lebih berkualitas. Jadi tidak ada kendala yang berarti terkait dengan kesediaan kami menjadi tuan rumah buka bersama ini,” bebernya.

Bapak pendeta menambahkan, satu-satunya cara yang paling efektif untuk menarik dan memikat anak muda adalah dengan melakukannya. “Anak muda tidak suka untuk kita menkotbahkan tentang berbuat baik tapi kau muda akan terinspirasi kalau kita mengajak mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Kumpul bersama dengan mereka yang seusia sebaya berbeda iman mengerjakan hal baik bersama-sama Itulah cara yang paling efektif untuk menggerakkan anak muda terinspirasi membangun Indonesia baru mulai dari hal-hal yang sederhana seperti sore ini,” ujarnya.

“Melakukan kegiatan adalah salah satu cara untuk menarik dan memikat anak muda untuk berbuat walau berbeda iman,”imbuhnya.

Dikatakannya, tidak apa-apa ada Azan di gereja karena Azan itu ditunjukkan kepada Tuhan sebuah undangan untuk berdoa bahkan sebenarnya di dalam teologi liturgi. “Di gereja ada posisi yang namanya konvokator,” kata Ptd Leo.

Menurutnya,hal tersebut bukan masalah tidak tidak karena Azan itu ditunjukkan kepada Tuhan sebuah undangan untuk berdoa bahkan sebenarnya di dalam teologi liturgi. Di gereja ada posisi yang namanya konvokator. Konvokator adalah muasisnya Kristen jadi konvokator mengajak umat untuk beribadah, berhimpun untuk memulai kebaktian tidak ada persoalan dengan itu.

DR. (HC). Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum mengatakan kebinnekaan yang ada saat ini harus tetap dijaga dan dilestarikan untuk keutuhan NKRI. Karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama dan ras. Saling bekerja sama, bersama-sama dengan umat beragama lainnya menjaga Indonesia.

“Kebinnekaan harus dijaga dan dipertahankan karena NKRI berdiri atas keberagaman,” ucap Ibu Shinta.

Winona Cheyenne Nata dari Universitas Kristen Petra semester enam mengatakan acara ini sangat baik dan berguna dan patut dilaksanakan lagi karena saya Kristen Protestan. Bersyukur sekali dengan adanya acara buka bersama bisa menambah wawasan dan belajar banyak hal, baik dari Ibu Shinta sampaikan dan dari teman-teman Muslim dalam berbuka puasa, mainsetnya, cara berpikir bahkan konsennya tentang perlakuan yang tidak adil terhadap agama lain. “Acara ini sangat efektif untuk menghilangkan prasangka buruk yang ada di antara kita,” jelasnya . (msa)