banner 728x250.

Mangrove Tanjung Batu Disiapkan Jadi Wajah Ekowisata Pesisir Jelang Lebaran 2026

banner 728x250. banner 728x250.
Dilihat: 697 kali

Berau, Global-satu.com – Menjelang libur Idulfitri 2026, kawasan wisata Mangrove Tanjung Batu tidak sekadar dibuka kembali, tetapi mulai diposisikan sebagai pintu awal ekowisata pesisir bagi wisatawan yang hendak menyeberang ke Pulau Derawan dan Pulau Maratua.

Revitalisasi yang dilakukan pemerintah daerah sepanjang 2024–2025 mengubah kawasan ini dari jalur kayu sederhana menjadi ruang wisata edukatif. Selasar kini diperpanjang hingga mendekati bibir laut, lengkap dengan sejumlah titik swafoto yang menyuguhkan panorama laut dan gugusan pulau.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari, menilai kembalinya kawasan mangrove ini menjadi peluang strategis di tengah lonjakan kunjungan wisatawan saat libur lebaran.

“Ini bukan hanya tempat singgah. Wisatawan bisa memanfaatkan waktu tunggu kapal dengan aktivitas yang lebih bermakna, seperti mengenal fungsi mangrove sebagai pelindung pantai dan habitat biota laut,” ujarnya.

Menurutnya, konsep yang diusung kini tidak lagi sekadar wisata transit, tetapi berkembang menjadi ekowisata berbasis edukasi dan konservasi. Pendekatan tersebut dinilai penting agar kawasan pesisir tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Konsep ini penting agar kawasan pesisir tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” tambahnya.

Selain itu, Sri juga menyoroti potensi ekonomi yang dapat tumbuh dari aktivitas wisata tersebut. Kehadiran wisatawan dinilai mampu membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk olahan maupun kerajinan khas pesisir.

“Itu sangat membantu UMKM kita untuk mempromosikan kerajinan khas pesisir,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar pengelolaan kawasan tidak mengabaikan aspek lingkungan. Menurutnya, keberhasilan wisata mangrove justru terletak pada keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian ekosistem.

“Jangan sampai wisata berkembang, tetapi mangrovenya rusak. Kekuatan utama kawasan ini ada pada alamnya, sehingga pengelolaan harus benar-benar memperhatikan prinsip keberlanjutan,” tegasnya.

Setelah sempat ditutup lebih dari dua tahun akibat kerusakan selasar, kini Mangrove Tanjung Batu diharapkan tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga pusat edukasi lingkungan sekaligus penggerak ekonomi lokal berbasis ekowisata.

indra/rdk/adv